PSB dan Media di Indonesia Harus Transformasi Jadi PSM

Senin sore 9 September 2019 menjadi hari yang perlu diingat bagi Rumah Perubahan LPP. Pada sore itu, seluruh pegiat RP LPP dapat berkumpul dengan pegiat yang selama ini melakukan studi lanjut dari Jerman, Masduki, salah satu pendiri lembaga ini. Sedangkan Muzayin Nazaruddin dan Firly Annisa, pegiat RPLPP yang lain, baru saja berangkat studi masing-masing ke Estonia dan Inggris.

Masduki hadir paska kelulusannya dalam mempertahankan disertasi di depan sidang para penguji dengan mengangkat transformasi LPP di Indonesia paska era otoritarian atau Public Service Broadcasting in Post-Authoritarian Indonesia.

RP LPP

Kelulusan ini akan menjadi lengkap setelah Masduki menyelesaikan satu kewajibannya di Jerman untuk studi doktoral yaitu menerbitkannya dalam publikasi buku. Penerbit yang sudah menawarkan adalah Palgrave Macmillan. Jika ini rampung, maka Dr. Rer. Soc. Masduki, M.Sc., MA. dapat dikatakan lengkap sebagai doktor.

Momentum sore itu tentu tak dilewatkan oleh seluruh pegiat RPLPP untuk mendulang pelajaran dan pengalaman berharga Masduki selama ini di Jerman. Ada cerita soal gaya hidup dan culture revolution yang terjadi di Jerman di era kekinian. Ada pergeseran budaya dalam kurun waktu yang panjang dan itu berbeda sekali dengan budaya di Indonesia yang secara umum masyarakatnya masih sibuk memertimbangkan soal kebutuhan dasar sandang-pangan-papan ketimbang soal-soal kebebesan pers, berekspresi, bahkan penyiaran publik.

Selain itu, Diskusi Klangenan sore di bilangan Wirobrajan, ini juga akhirnya menindaklanjuti rencana dua bulan terakhir menyemarakkan Bulan Penyiaran Publik 2019 yang pada tahun lalu sempat dihelat bersama Komunikasi UII, RRI dan TVRI. Tahun lalu Bulan Penyiaran Publik dirangkai dengan beragam acara beruntun sebagai momen refleksi. Misalnya mini-conference tentang RTRI kerja bareng Komunikasi UII, RPLPP, RRI, dan TVRI. Ada juga napak tilas sejarah radio RRI bersama seluruh angkasawan RRI Yogyakarta. Diskusi Peluncuran Buku TVRI di Era Krisis tulisan pegiat lembaga ini, Darmanto.

Bulan Penyiaran Publik tahun 2019 ini berisi beberapa kegiatanseperti di Workshop Pengarusutamaan Keterbukaan Informasi Publik di LPP RRI dan TVRI Yogyakarta, Diskusi penguatan LPP di RRI Semarang, dan TVRI di Surabaya. Khusus di Yogyakarta, tempat lembaga ini berbasis, akan diadakan diskusi “UPDATE! Media dan Jurnalisme di Beberapa Negara Dunia” (Jerman, Australia, dll) dengan menghadirkan pembicara Masduki dan beberapa kawan lain yang baru saja kembali dari studinya di luar negari. Diskusi ini berusaha menyingggung soal serikat kerja jurnalis, kondisi media, dan beberapa hal tentang lika-liku jurnalisme dan media di luar negeri. Isu diskusi ini berkembang semakin berwarna atas masukan AJI Yogyakarta, MPM, dan PR2Media. Diskusinya direncakan pada 30 September 2019 dan Workshop KIP pada LPP di DIY rencananya akan dihelat pada 24 September 2019. Anda bisa catat harinya.

Ada banyak refleksi juga yang muncul selama 7 tahun RPLPP bergerak mengadvokasi isu LPP dan penyiaran publik di Indonesia. Misalnya bagaimana animo RRI dan TVRI sebagai bakal LPP yang paripurna, lalu juga soal kesadaran bahwa dalam era multiplatform ini sudah saatnya muncul lembaga yang tidak lagi basisnya adalah penyiaran an sich melainkan lembaga yang inklusif yang dalam dunia kajian media disebut Public Service Media, tak lagi hanya Public Service Broadcasting/ PSB atau Public Broadcasting Service/ PBS. Jika PSB dan media konvensional tak mau ditinggal khalayaknya, maka kini saatnya beralih menjadi PSM. Isu soal Lembaga Penyiaran Publik harus diperbarui. Apalagi isu soal Lembaga Penyiaran Pemerintah, sudah usang.

Dari diskusi sore hingga malam hari ini kami, pegiat RPLPP, mulai yakin bahwa sudah saatnya PSB/ PBS di Indonesia dan semua media di Indonesia bertransformasi menjadi Public Service Media. Pun pada kenyataannya, kini telah banyak media yang telah mengedepankan konten-kontennya yang punya visi layanan publik. Ini diperkuat dengan beberapa hasil yang telah direkomendasikan forum FGD terbatas di Yogyakarta oleh beberapa akademisi, pegiat media, aktivis NGO tentang Inisiasi Pembentukan Public Service Media beberapa waktu lalu di akhir Desember 2018 yang menjadikan Komunikasi UII, Masyarakat Peduli Media (MPM) dan RPLPP sebagai tuan rumah pelaksana FGD pembentukan PSM.

RPLPP akan mendorong dan mempromosikan ide-ide gagasan macam ini baik ia media negara, media swasta, media komunitas sejauh ia memiliki pegiat, sumber dana, dan konten layanan publik.

Sudah saatnya PSB dan Media di Indonesia bertransformasi menjadi media layanan publik (Public Service Media). Publik mendesak dan butuh konten-konten berorientasi layanan publik. Pada akhir diskusi dan rapat RPLPP ini patut kiranya disematkan kalimat penutup diskusi oleh Darmanto, salahsatu pendiri RPLPP, sore itu, “konten layanan publik bukan hanya monopoli RRI dan TVRI. Maka semua orang berhak memproduksi konten layanan publik.”

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.