Lanjutan dari tulisan 1
Oleh Masduki
Presentasi Prof. Nuboto Yamamoto (Keio University, Jepang) Kamis siang 22 Oktober: keynote jam 1330 Wib menjadi salah satu yang menarik perhatian. Ia membandingkan struktur ekonomi politik yang memengaruhi dunia PSBs di Jepang, Singapura dan Indonesia. Tiga sistem dan budaya politik yang sangat berbeda membentuk sistem PSBs berbeda: Jepang public driven, Singapura market driven, Indonesia government driven. Di sesi tanya jawab, saya yang dapat kesempatan satu satunya peserta bertanya, menyampaikan refleksi relasi media dan politics yang kompleks di Asia Tenggara dan bagaimana mengurainya agar PSBs di negara-negara pasca otoriter tetap menjadi ruang yang aman bagi democratic conversation.
Merespon berbagai disrupsi, seruan moral dan ajakan untuk terus bergerak datang dari ratusan delegasi RIPE@2026 NCCU untuk menjaga prinsip-prinsip ini:
1. Independensi kelembagaan dan otonomi editorial harus terus menjadi garansi reputasi diri semua media publik di seluruh dunia.
2. Tuntutan kepada platform digital agar transparan dan adil terhadap PSBs.
3. Perlu gerakan literasi atas AI di lingkungan pegiat PSBs khususnya dalam mensikapi aspek data security, storaging atas programming sources/databases
4. Kolaborasi riset akademis dan advokasi lembaga media publik perlu makin intensif terutama governance of AI, transformasi model bisnis, otonomi dan kualitas konten.
Saya melihat kondisi RRI/TVRI di Indonesia sebagai PSBs senasib dengan PSBs di Taiwan (Public Service Television). Bedanya, otoritas Taiwan hadir langsung untuk warganya lewat PSBs. Kita bisa belajar dari peristiwa Typhoon Champi tahun ini yang menghentikan seluruh aktivitas sosial di Taipei. Otoritas Taiwan aktif menyebarkan warning kepada warga, emergency information lewat PTS, semua warga patuh, hanya public transport dan groceries yang buka 24 jam. Jumlah korban menjadi minimal karena himabauan agar stay at home diikuti, penerbangan internasional hari Jumat ditunda. Sabtu pagi 24 Oktober semua sudah normal kembali. Lewat PSBs, negara hadir dengan baik saat warganya memerlukan.
Seperti halnya di Indonesia, radio/TV komersial di Taiwan kini kondisinya prihatin dan bertahan sebisanya. Tak ada bantuan dana dan kebijakan untuk media komersial dari negara. Adapun Pemerintah sendiri bebas mengembangkan media komunikasi lewat Medsos, influencer dan kerjasama program dengan media komersial. Disrupsi digital dan
hegemoni platform digital di Taiwan menjadi tantangan serius: no way out selain PSBs Taiwan terpaksa menjalin kerjasama program misalnya dengan Netflix, YouTube. Namun menarik bahwa TikTok tak beroperasi di Taiwan karena ia perusahaan asal China. Ada sentimen kuat soal ini.
______________________________
Apa yang bisa dilakukan ketika tinggal di kota Taipei dengan harapan awal bisa city tour tapi justru harus ‘staycation’ karena travel warning badai Thypoon? ada banyak. Kita tinggal switch off format wisata conventional ke gaya slow tourism: menikmati waktu di kursi kecil caffee, observasi atau mengunyah makanan dengan sepenuh jiwa. Dari In stone motel tempat menginap di kawasan Xiuming Rd, Wenshan District, Taipei City, jalan cepat menembus hujan dengan payung dari hotel ke 7Eleven, waralaba yang masih buka sunnguh sebuah perjuangan, juga pengalaman kecil yang penuh kenangan.Saya pesen segelas teh tawar yang hangat, sepotong croissant dan satu lunch box. Ini cukup untuk mengisi perut. Pesanan menu ini rupanya juga dilakukan puluhan anak muda lain yang kemudian duduk santai menyantapnya. Usai bayar gesek kartu kredit di kasir, saya mengambil tempat duduk di kursi menghadap jalan raya di kawasan Wanshou Bridge. Di sebelah saya ada seorang bapak yang suntuk membaca buku, ada puluhan costumer yang beli makanan, mereka berbicara dengan bahasa Mandarin Chinese yang saya tidak paham. Saya ketika memesan teh tawar panas harus dengan bantuan Google translate…
